UJI TOKSISITAS LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP KUTU AIR TAWAR (DAPHNIA MAGNA) 1) Annisa Wulandari1) Diah Wulandari Rousdy2) Laili fitria1) Program Studi Teknik Lingkungan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Pontianak 2) Program Studi Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura, Pontianak Email : [email protected] ABSTRAK Limbah cair industri tahu yang dibuang ke badan air penerima tanpa pengolahan merupakan salah satu sumber pencemar di perairan yang menyebabkan kematian biota akuatik sehingga perlu dilakukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC 50 limbah cair dari industri tahu yang terdapat di Kota Pontianak. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 48 jam menggunakan hewan uji kutu air tawar (Daphnia magna). Konsentrasi rata-rata parameter limbah cair dari industri tahu yang didapatkan yaitu BOD sebesar 532,46 mg/L, COD 1870,20 mg/L, TSS 747 mg/L, amonia 432,50 mg/L, pH 5,58 dan suhu 32 oC. Nilai parameter limbah cair tahu tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai dan KEP/MENLH/ No.3 Tahun 2010 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri. Nilai LC50 rata-rata dari limbah cair tahu sebesar 3,56%. Peningkatan nilai BOD, COD, TSS, amonia dan pH akan menyebabkan peningkatan mortalitas hewan uji.. Kata Kunci : LC50-48 jam, toksisitas, limbah cair tahu, kutu air tawar (Daphnia magna) ABSTRACT Wastewater of tofu industry who throw into water recipient without processing is one of the sources of polluters in water that caused the death of aquatic biota, so the acute toxicity test required. This research aims to know the value of LC 50 wastewater from tofu industry in Pontianak. Acute toxicity test is performed with a static method within 48 hours using animal test fresh water fleas (Daphnia magna). The average concentration of the parameter such as BOD 532,46 mg/L, COD 1870,20 mg/L, TSS 747 mg/L, ammonia 432,50 mg/L, pH 5,58 and temperature 32 oC. The value of the liquid waste from tofu industry was beyond the standard of KEP/MENLH/ No.5 Tahun 2014 which regulates the standard for wastewater from the bussines or activity of soybean processing and KEP/MENLH/ No.3 Tahun 2010 the standard for wastewater from industry activity. LC50 average values of wastewater from tofu industry is 3,56%. Increasing the value of BOD , COD , TSS , ammonia and pH will cause increased mortality of the animals. Keywords: LC50-48 hour, toxicity, wastewater of tofu, fresh water fleas (Daphnia magna) 1. PENDAHULUAN Limbah cair tahu merupakan limbah dengan kandungan polutan organik yang cukup tinggi. Bahan-bahan organik di dalam air buangan tersebut menurut Nurhasan dan Pramudyanto (1987) berupa protein (40%-60%), karbohidrat (25%-50%) dan lemak (10%). Selain itu, limbah cair dari pengolahan tahu mempunyai suhu air berkisar antara 37 - 45°C, kekeruhan 535 - 585 FTU, warna 2.225-2.250 Pt.Co, amonia 23,3-23,5 mg/L, BOD5 6.000 - 8.000 mg/L dan COD 7.500 - 14.000 mg/L (Herlambang, 2002). Salah satu industri pembuatan tahu dalam skala menengah berada di kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan informasi yang didapat dari hasil wawancara, pabrik ini dapat mengolah 173 kg kacang kedelai per harinya dan menghasilkan 6500 buah tahu per hari. Jumlah limbah cair yang dihasilkan dari setiap proses pembuatan tahu sekitar 19 - 22 L/hari. Apabila limbah tersebut terbuang ke badan air dapat 1 mengakibatkan pencemaran yang berakhir dengan menurunnya kualitas air dan menurunkan daya dukung lingkungan perairan bagi beberapa biota akuatik. Salah satu faktor penyebab kematian bagi biota akuatik di badan perairan yang sudah tercemar adalah tingkat toksisitas dari zat pencemar. Tingkat toksisitas suatu pencemar dapat diketahui dengan uji toksisitas menggunakan hewan uji dengan kriteria tertentu, salah satunya adalah kutu air tawar (Daphnia Magna). Kutu air tawar (Daphnia magna) merupakan jenis Crustasea mikroskopis dengan siklus hidup yang relatif singkat dan sensitif terhadap berbagai bahan pencemar perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai LC50 48 jam limbah cair industri tahu menggunakan hewan uji kutu air tawar (Daphnia magna) dan menganalisis hubungan antara nilai DO, BOD, COD, TSS, amonia, pH dan suhu limbah air tahu terhadap kematian hewan uji. 2. METODOLOGI PENELITIAN A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura, sedangkan untuk analisis karakteristik fisik dan kimia sampel limbah cair tahu dilakukan di Laboratorium Pertanian Universitas Tanjungpura. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan rangkaian kegiatan penelitian ini adalah selama 10 bulan terhitung dari bulan Mei 2015 hingga Februari 2016. B. ALAT DAN BAHAN Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah aerator, wadah pembiakan volume >1,5 liter, wadah pemaparan volume 100 ml, kaca pembesar (bila diperlukan), pipet tetes, pipet ukur 10 ml, pH meter, termometer dan kertas label. Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah limbah cair industri tahu, kista kutu air tawar (Daphnia magna), ragi instan, dan akuades. C. PROSEDUR PENELITIAN Berikut adalah prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini: Pengambilan Sampel Limbah Cair Tahu Pengambilan sampel dilakukan dua kali dengan menggunakan metode grab sampling yaitu pengambilan contoh air hanya satu kali untuk setiap kesempatan sampling. Sampel yang diambil berasal dari kolam penampungan air limbah pada proses perebusan kedelai. Sampel air diambil menggunakan botol plastik dengan volume 1,5 liter Persiapan Hewan Uji Daphnia magna Sebelum digunakan dalam uji toksisitas, kutu air tawar (Daphnia magna) di aklimatisasi di laboratorium minimal selama 7 hari. Selama proses aklimatisasi, kutu air tawar (Daphnia magna) diberi makan ragi setiap hari sebanyak 3 gram. Kutu air tawar (Daphnia magna) akan dikembangbiakan di dalam reaktor pembiakan. Untuk proses pembiakan, kutu air tawar (Daphnia magna) yang sudah mencapai usia dewasa atau 4 hari dimasukkan sebanyak 400 ekor pada reaktor pembiakan yang berisi akuades dengan pH 6-9, DO diatas 3 mg/L, dan suhu 24-260C. Kutu air dewasa akan dibiarkan bertelur selama 3 hari. Kemudian telur-telur tersebut akan dibiarkan menetas dan akan digunakan ketika hewan uji berumur kurang dari 24 jam 2 Uji Pendahuluan (Range Finding Test) Pengujian dilakukan dengan metode uji hayati statis atau static test. Lamanya pengujian berlangsung selama 48 jam untuk setiap tes. Pada uji pendahuluan, 20 ekor Daphnia yang telah disiapkan dimasukkan dalam 100 ml limbah tahu dengan lima konsentrasi yang berbeda, U.S. EPA (2002) merekomendasikan konsentrasi limbahnya antara lain 0,1%, 1%, 10%, dan 100% (v/v), serta satu konsentrasi kontrol (0%). Setiap variasi dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali ulangan. Hewan uji tidak diberi makan selama pengujian berlangsung. Uji Lanjutan (Definitive Test) Uji lanjutan dilakukan dengan prosedur yang sama, tetapi menggunakan 4 variasi konsentrasi yang telah dipersempit berdasarkan hasil range finding test dan satu konsentrasi kontrol (U.S. EPA, 2002), yaitu 2%, 4%, 6% dan 8%. Data mortalitas dari uji lanjutan kemudian dianalisis dengan analisis probit menggunakan software MINITAB versi 16.2.4 untuk menentukan nilai LC50. Pengujian Parameter Fisika - Kimia Air Limbah Pengujian parameter fisika - kimia terhadap limbah murni dilakukan sebelum digunakan untuk uji toksisitas atau pada hari ke-0. Selain itu, pengujian parameter fisika – kimia terhadap masing-masing konsentrasi uji lanjutan dilakukan sebelum uji toksisitas. Karakteristik fisik dan kimia diukur untuk menentukan hubungan antara kualitas air limbah dan kematian hewan uji. Metode yang digunakan untuk mengukur parameter tersebut tercantum dalam Tabel 1. Pengukuran pH dan suhu air limbah, masing-masing dapat menggunakan pH meter dan thermometer. Tabel 1. Metode Pengukuran Parameter Air No 1 2 3 4 Parameter BOD COD TSS Amonia Metode Winkler Refluks Tertutup Gravimetri Nesler Baku Mutu SNI 06-6989.30-2005 SNI 06-6989.2-2009 SNI 06-6989.3-2004 SNI 06-2479-1991 D. ANALISIS DATA Data dari uji lanjutan kemudian dianalisis dengan metode probit menggunakan software MINITAB versi 16.2.4. Analisis ini digunakan untuk menentukan seberapa besar tingkat toksisitas limbah cair terhadap hewan uji yang dinyatakan dengan nilai LC50. Selain itu akan dianalisis hubungan antara parameter fisik dan kimia dari limbah cair dengan kematian kutu air (D. magna). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU Penelitian ini menggunakan air limbah industri pembuatan tahu yang berlokasi di daerah Pontianak. Industri ini menghasilkan limbah sekitar 19–22 L/hari. Banyaknya limbah yang dihasilkan dapat mencemari lingkungan jika langsung dibuang ke badan air. Adapun karakteristik dari limbah cair tahu dan baku mutu dapat dilihat pada Tabel 2. 3 Tabel 2. Karakteristik Air Limbah Industri Pembuatan Tahu No Parameter Satuan Sampel Limbah Cair Tahu Baku Mutu* 1 BOD mg/L 532.455 150 2 COD mg/L 1870.195 300 3 TSS mg/L 747 200 4 Ammonia mg/L 432.50 5 pH - 5.58 6-9 6 Suhu C 32 - o 20** *Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai ** Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri Berdasarkan data dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa beberapa nilai parameter melewati baku mutu yang ditetapkan oleh KEP/MENLH/No.5 Tahun 2014 dan KEP/MENLH/No.3 Tahun 2010. Parameter tersebut adalah BOD, COD, TSS, pH dan ammonia. Masing-masing parameter memiliki efek yang berbeda terhadap lingkungan dan organisme perairan. Persentase Kematian (%) B. UJI TOKSISITAS AKUT Uji toksisitas akut merupakan salah satu bentuk penelitian toksikologi untuk perairan. Uji ini berfungsi untuk mengetahui apakah effluent mengandung senyawa toksik dalam konsentrasi yang menyebabkan toksisitas akut bagi biota yang berada di sebuah badan perairan. Parameter yang diukur biasanya berupa kematian hewan uji, yang hasilnya dinyatakan sebagai konsentrasi yang menyebabkan 50% kematian hewan uji (LC50) (Husni dan Esmeralda, 2011). Uji toksisitas akut dilakukan dalam waktu yang relatif pendek yaitu satu sampai empat hari atau 24 – 96 jam. Uji Pendahuluan (Range Finding Test) Uji pendahuluan (range finding test) bertujuan untuk menentukan kisaran konsentrasi yang menyebabkan kematian biota uji sebanyak 50% selama 48 jam. Konsentrasi limbah cair tahu dalam range finding test menggunakan rekomendasi variasi konsentrasi dari US. EPA, (2002) yaitu 100%; 10%; 1%; 0,1%; dan 0%. Adapun hasil range finding test limbah cair industri tahu terhadap kutu air tawar (Daphnia magna) yang dilakukan selama 48 jam dapat dilihat pada Gambar 1. 100 100 80 60 42 50 40 20 0 5 0 0,1 0 1 10 100 Konsentrasi Limbah (%) Gambar 1. Persentase Kematian Ikan Pada Uji Pendahuluan (Range Finding Test) Setelah 48 Jam 4 Persentase Kematian (%) Berdasarkan hasil uji pendahuluan dapat diketahui bahwa konsentrasi yang dapat mematikan hewan uji sebesar 50% berkisar antara 1% sampai 10%. Oleh karena itu pada uji lanjutan akan digunakan variasi konsentrasi terbaru yaitu 2%; 4%; 6%; dan 8%. Seperti yang terjadi pada uji pendahuluan yang telah dilakukan, hewan uji pada kontrol tidak mengalami kematian sehingga kematian yang terjadi pada variasi konsentrasi lain bukan disebabkan faktor eksternal seperti jenis wadah yang digunakan, tidak diberikannya makan kepada hewan uji dan tidak terdapat suplai oksigen oleh aerator selama pengujian berlangsung. Uji Lanjutan (Definitive Test) Uji lanjutan menggunakan konsentrasi baru yang didapat dari penentuan batas atas dan bawah pada uji pendahuluan. Prosedur yang sama dilakukan kembali pada uji lanjutan tersebut. Pengujian ini juga akan dilakukan selama 48 jam. Jumlah dan persentase kematian kutu air tawar (Daphnia magna) yang dapat dilihat pada Gambar 2. 75 67 60 53 57 4 6 43 45 30 15 0 0 0 2 8 Konsentrasi Limbah (%) Gambar 2. Persentase Kematian Ikan Pada Uji Lanjutan (Devinitif Test) Setelah 48 Jam Persentase kematian dari masing–masing konsentrasi yaitu sebesar 43%; 53%; 57%; dan 67% seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2. Selama pemaparan berlangsung, konsentrasi 4% - 8% mampu mematikan hewan uji sebesar 50% dengan jumlah kematian rata-rata sebesar 11 ekor. Sedangkan untuk konsentrasi yang lebih rendah jumlah kematian rata-rata 9 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa limbah cair yang berasal dari pabrik pembuatan tahu memiliki efek akut terhadap suatu biota di sebuah badan perairan, karena dapat mematikan hewan uji sebesar 50% dalam waktu 48 jam. Racun yang masuk ke badan air dapat langsung menyebabkan kematian pada organisme di sebuah badan perairan. Hal ini dapat dilihat pada konsentrasi 100% yang digunakan saat uji pendahuluan (range finding test). Konsentrasi ini dapat menyebabkan kematian pada hewan uji dengan tingkat kematian 100% atau sebanyak 20 ekor kutu air dalam waktu kurang dari 48 jam, yaitu sekitar 10–15 menit. Tetapi untuk konsentrasi yang lebih rendah akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat mematikan hewan uji yang digunakan, seperti yang terjadi pada konsentrasi 2%; 4%; 6%; dan 8%. Hasil pengamatan pada uji toksisitas akut tampak gejala awal akibat keracunan pada kutu air setelah waktu pemaparan 24 jam pada semua konsentrasi. Setelah 24 jam pemaparan, sebagian besar kutu air (Daphnia magna) cenderung akan berkumpul di bagian dasar wadah dan tidak bergerak aktif sebelum akhirnya benar-benar mati setelah terpapar selama 48 jam. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi limbah maka tingkat kematian kutu air semakin besar, sedangkan semakin rendah konsentrasi limbah maka semakin 5 sedikit jumlah kutu air yang mati. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Hefni dkk (2012), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi air limbah maka tingkat kematian kutu air semakin meningkat dan begitu juga sebaliknya. C. NILAI LC50 RATA-RATA Penentuan nilai LC50 pada penelitian ini menggunakan metode probit dengan bantuan software Minitab 16.2.4. Hasil dari uji lanjut yang dilakukan terhadap jenis sampel limbah cair, didapatkan tiga variasi nilai LC50. Gambar 3 menunjukkan nilai LC50 rata-rata dari limbah cair tahu terhadap hewan uji yaitu kutu air tawar (Daphnia magna) yakni sebesar 3,56%. Probability Plot for Dead Normal - 95% CI Probit Data - ML Estimates Stadia Ny mphs Ny mphs2 Ny mphs3 80 Table of M ean 2.83798 3.92821 3.93612 Percent 70 60 S tatistics S tD ev 11.1527 11.1527 11.1527 50 40 LC50 Rata-rata = 3,56 % 30 0 2 4 6 Concentration 8 10 Gambar 3. Nilai LC50 limbah cair industri tahu terhadap kutu air tawar (Daphnia magna) Pennak (1953) menyatakan bahwa Daphnia magna menyerap bahan-bahan organik dan anorganik oleh permukaan tubuhnya. Kematian Daphnia dapat disebabkan karena masuknya limbah cair industri tahu ke dalam tubuh melalui eksoskeleton yang merupakan akumulator jaringan terbesar. Limbah cair yang masuk ke dalam tubuh Daphnia akan merusak sistem tubuh dan menyebabkan kematian. D. HUBUNGAN KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR INDUSTRI TERHADAP KEMATIAN KUTU AIR TAWAR (DAPHNIA MAGNA) Ada beberapa parameter yang diuji pada limbah cair industri pembuatan tahu yaitu BOD, COD, TSS, amonia, DO, pH dan suhu. Parameter tersebut merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kematian Daphnia. Penelitian ini membahas tentang analisis hubungan antara karakteristik limbah cair industri pembuatan tahu dan kematian Daphnia. Hubungan BOD dan COD Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Nilai BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi bahan organik yang terdapat di dalam limbah. Sedangkan nilai COD menunjukkan banyaknya oksigen yang digunakan dalam proses oksidasi oleh zat-zat organik yang terkandung dalam limbah cair yang ekuivalen dengan nilai konsentrasi kalium dikromat (K2Cr2O7) (Ginting, 1992). Nilai BOD dan COD yang terkandung di dalam limbah cair tahu masing-masing sebesar 532,46 mg/L dan 1870,20 mg/L. 6 Persentase Kematian (%) 70 60 50 40 30 20 10 0 40.85 45.7 47.82 55.79 Persentase Kematian (%) BOD (mg/L) 70 60 50 40 30 20 10 0 197.09 205.44 216.98 225.85 COD (mg/L) Gambar 4 Hubungan antara BOD dan COD terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Gambar 5 Hubungan antara COD terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5 nilai BOD dan COD berbanding lurus terhadap persentase kematian Daphnia. Semakin besar nilai BOD dan COD, maka persentase kematian Daphnia menjadi semakin tinggi Hubungan Amonia Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Kadar amonia yang tinggi dapat dijadikan indikasi pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, industri, dan limpasan (runoff) pupuk pertanian (Husni dan Esmiralda, 2011). Amonia yang terkandung dalam limbah cair tahu memiliki nilai yang berada diatas baku mutu yaitu 432,50 mg/L. Hal ini disebabkan karena bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tahu adalah kedelai. Kedelai mengandung protein yang cukup tinggi. Protein tersebut dapat diuraikan oleh mikroorganisme menjadi amonia, sehingga semakin banyak kandungan protein maka nilai amonia juga akan semakin besar. 7 Persentase Kematian (%) 70 60 50 40 30 20 10 0 29.4 34.01 38 41.32 Amonia (mg/L) Gambar 6 Hubungan antara amonia terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Semakin besar amonia yang terkandung di dalam limbah cair tahu, semakin tinggi juga tingkat kematian Daphnia. Hal ini menunjukkan bahwa nilai amonia yang tinggi berbanding lurus terhadap tingkat kematian Daphnia. Amonia akan terserap kedalam tubuh Daphnia dan mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah, sehingga menyebabkan kematian bagi Daphnia. Persentase Kematian (%) Hubungan TSS Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Parameter lain yang berpengaruh adalah TSS yang merupakan salah satu faktor penting terjadinya kekeruhan di badan air. Hal ini dikarenakan adanya kandungan zat tersuspensi. Zat tersuspensi yang terkandung didalam limbah cair tahu berasal dari ampas tahu yang terbentuk pada saat proses perebusan biji kedelai. Nilai TSS pada limbah cair industri tahu cukup tinggi yaitu sebesar 747 mg /L. 70 60 50 40 30 20 10 0 68.12 72.33 76.41 80.56 TSS (mg/L) Gambar 7 Hubungan antara TSS terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Seperti yang terlihat pada Gambar 7 semakin besar nilai TSS, maka semakin tinggi tingkat kematian Daphnia. TSS dapat mempengaruhi kehidupan organisme perairan dengan mengurangi intensitas cahaya dan difusi oksigen ke dalam air. Oksigen terlarut yang tersedia akan menjadi semakin berkurang dan menyebabkan kematian pada Daphnia. Daphnia merupakan zooplankton yang memperoleh makanannya secara filter feeder (menyaring makanan), sehingga partikel tersuspensi halus dari limbah akan menghalangi proses penyaringan partikel makanan oleh Daphnia. 8 Persentase Kematian (%) Hubungan DO Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Kadar oksigen terlarut berpengaruh terhadap fisiologis organisme air seperti Daphnia, terutama pada proses respirasi. Meskipun Daphnia masih dapat bertahan hidup pada kandungan oksigen terlarut terendah sekitar 3-5 mg/L (Clare, 2002). Tingginya nilai BOD, COD, TSS serta amonia menyebabkan tidak terdapatnya oksigen terlarut di dalam limbah cair tahu yang digunakan. Hal ini dapat menyebabkan kematian pada Daphnia dalam waktu singkat. Hubungan pH Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Menurut Tebbut (1992), toksisitas suatu senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH. Saat pH tinggi yaitu pada suasana alkalis akan lebih banyak ditemukan amonia yang tak terionisasi dan bersifat toksik. Daphnia memerlukan pH yang sesuai untuk hidup dan berkembang biak. Menurut U.S. EPA (2002), pH optimum bagi Daphnia untuk dapat bertahan hidup berada dalam rentang 6-9. 80 60 40 20 0 5.87 5.89 5.93 5.96 pH Gambar 8 Hubungan antara pH terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Dapat dilihat pada Gambar 8 jika pH air limbah menuju pH netral (mendekati 7) maka tingkat kematian Daphnia semakin kecil. Limbah cair tahu mengandung asam cuka sisa proses penggumpalan tahu, sehingga menyebabkan pH limbah bersifat cenderung asam yaitu 5,58. Kondisi limbah cair tahu yang terlalu asam akan menghambat pembentukan eksoskeleton baru, sedangkan pH yang sangat basa akan melunakkan eksoskeleton. Perubahan pH ini mengakibatkan Daphnia menjadi lebih rentan terhadap zat toksik Hubungan Suhu Limbah Cair Tahu Terhadap Kematian Kutu Air Tawar (Daphnia Magna) Daphnia merupakan invertebrata air yang sangat peka terhadap perubahan suhu terutama saat perkembangan larva hingga dewasa (Djarijah, 1995). Menurut U.S. EPA (2002) Daphnia dapat tumbuh dengan baik pada suhu 24-260C. 9 Persentase Kematian (%) 80 60 40 20 0 27 27 27.6 28 Suhu Gambar 9 Hubungan antara suhu terhadap kematian kutu air tawar (Daphnia magna) Suhu atau temperatur air limbah pada proses perebusan dalam pembuatan tahu sebesar 32 oC. Suhu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah dapat mengganggu kehidupan Daphnia. Hal ini berkaitan dengan enzim dalam tubuh Daphnia, dimana kinerja enzim tersebut dipengaruhi oleh suhu. Enzim akan bekerja dengan baik pada kisaran suhu optimal. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Hasil pengujian parameter fisika-kimia limbah cair industri pembuatan tahu didapatkan nilai BOD sebesar 532.46 mg/L, COD 1870.20 mg/L, TSS 747 mg/L, amonia 432,50 mg/L, suhu 32 oC dan pH 5,58. 2. Nilai LC50 48 jam limbah cair tahu terhadap kutu air tawar (Daphnia magna) sebesar 3,56%. 3. Semakin meningkatnya nilai BOD, COD, TSS, amonia dan suhu, serta menurunnya pH limbah cair tahu maka persentase kematian Daphnia semakin besar. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan selesainya penelitian ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT., kedua orang tua, kedua dosen pembimbing yaitu Ibu Diah Wulandari, S.Si, M.Sc. dan Ibu Laili Fitria, ST, MT. serta kepada teman-teman Teknik Lingkungan 2011, seluruh teman-teman Fakultas Teknik Untan dan semua orang yang telah berperan dalam membantu penelitian ini yang tidak dapat diucapkan satu persatu. Harapan saya penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. DAFTAR PUSTAKA APHA. 1995. Standar Method for The Examination of Water and Waste water. American Public Health Association,American Water Works Association and Water Polution Control Federation 19th edition. Washington D.C. Clare, J. 2002. Daphnia: an Aquarist’s Guide . Freshwater Biological Assosiation. United Kingdom. Djarijah, A. S. 1995. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta. Ginting. 1992. Polusi Air. Penerbit Kanisius . Yogyakarta. Herlambang, A, 2002. Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (BPPT) dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Samarinda. 10 Husni, Hayatul dan Esmeralda,MT, 2011. Uji Toksisitas Akut Limbah Cair Industri Tahu Terhadap Ikan Mas (Cyprinus Carpio Lin). Jurusan Teknik Lingkungan, Universitas Andalas. Padang. Pennak, R.W. 1953. Freshwater Invertebrates of United States. The Ronald Press, New York. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah. Tebbutt, T.H. 1992. Principle of Water Quality Control. 2nd Ed. University of Brimingham. England. U.S. EPA (United States of Environmental Protection Agency), 2002, Methods for Measuring the Acute Toxicity of Effluent and Receiving Water to Freshwater and Marine Organism, fifth edition. EPA. Washington DC. 11
© Copyright 2026 Paperzz