Matakuliah Tahun Versi : S0114 / Rekayasa Struktur : 2006 :1 Pertemuan 13 Slope Deflection Method 1 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : • Mahasiswa dapat menghitung struktur dengan slope deflection method 2 Outline Materi • Analisa portal satu tingkat akibat beban yang bekerja 3 • Metode ini berasal dari HARDY CROSS, ditemukan tahun 1930. • Menganalisa semua jenis balok dan portal kaku yang statis tidak tertentu, dimana batang-batangnya terutama mengalami lenturan. • Distribusi momen adalah pembagian momen berdasarkan kekakuannya. • Rangka batang tidak bisa di CROSS. (kecuali vierendeel) • Kekakuan (atau lebih khusus ke-kakuan rotasional / putaran) atau stiffness factor atau koefisien angka kejur. • Kekakuan sebagai momen ujung yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rotasi satuan pada satu ujung batang (sedangkan ujung lain terjepit atau sendi kekakuan = M untuk mendapatkan A = 1 radial). 4 a) M A =1 ℓ A M EI B “ A B MB “ 1) M A B + 2) A B MB • ABMEIA=1ℓMBABM““A BM+ABMBa)1)2)Protect or Seal DO NOT REMOVE THIS • B= 0 B jepit • A= Mℓ/3EI • B= Mℓ/6EI (M) supaya B=0 maka di B harus diberi momen kebalikannya A= MB.ℓ/6EI • B= MB.ℓ/3EI (MB) 5 A= 1 Mℓ/3EI - MB.ℓ/6EI = 1 B= 0 Mℓ/6EI - MB.ℓ/3EI = 0 MB = 0,5 M ABMA=1=1KAB= 4EI/ℓ (A sendi, B jepit) M= 4EI/ℓ4 Mℓ - Mℓ12 EIKR= K relatif= I/ℓ =k KAB= 3EI/ℓ A= Mℓ/3EI A= 1 = Mℓ/3EIM= 3EI/ℓ (A sendi, Bre Protector Seal DO NOT REMOVE THIS A= Mℓ/3EI – 0,5M.ℓ/6EI = 1 6 Faktor distribusi Ditentukan oleh nilai-nilai krelatif untuk batang-batang yang tersambung. Suatu momen yang dilawan oleh sebuah titik kumpul akan didistri-busikan diantara batang – batang yang tersambung sebanding dengan faktor-faktor distribusi. Faktor distribusi i (distribution factor) = Dianggap titik hubungan T hubungan kaku (kokoh), pada titik T dikerjakan M menyebabkan = 1. 7 B M dilawan oleh keempat batang C T A M TA M TB M TC M TD M M D B =1 C A T M TA I TA 4E TA M TB I TB 4E TB M TC I TC 4E TC M TD I TD 4E TD D 8 I TA I TB I TC I TD M 4E TA TB TC TD M k I/ 4E k M TA I TA M 4E . TA 4E k I TA k TA .M .M k k M 9 • Koefisien induksi = carry over factor (c.o.f) = faktor pemindahan perbandingan dari momen yang diinduksikan pada ujung yang jauh yang terjepit dengan momen yang bekerja pada ujung yang dekat yang ditahan terhadap pergeseran tetapi boleh berputar. • Jadi perbandingan antara momen yang timbul di B dengan momen yang dikerjakan di A. 10 MB M B B = 0 Mℓ/6EI - MBℓ/3EI = 0] MB = 0,5 M Koefisien induksi = 0,5 11 Pengecekan = perputaran sudut relatif MAB= FEMAB - kR(-2A - B) MBA= FEMBA - kR(-2B - A) AR (M AB - FEM AB ) - 0,5(M BA - FEM BA ) - 1,5 k R BR (M BA - FEM BA ) - 0,5(M AB - FEM AB ) - 1,5 k R 12 Perubahan = momen akhir - FEM = change Step 2: 1. Change = Makhir -FEM 2. –0,5 . change 3. Total 1 & 2 4. Total Relatif - kR 13 Modifikasi dari kekakuan Untuk perletakan engsel pada ujung jauh A B C A B C dianggap ℓ2 ℓ1 k=4EI/ℓ2 k=4EI/ℓ1 A A B B B C C 14 1r k=4EI/ℓ harus dimodifikasi x 3/4 k=3EI/ℓ 1r M =Mℓ/3EI = 3 rad M=3EI/ℓ Kmod = ¾ k 15 Untuk engsel C menjadi jepit (dianggap), kekakuannya harus dimodifikasi kR : untuk AB = I/ℓ untuk BC = ¾ . . /ℓ. Monen CROSS adalah momen titik Perjanjian momen cross a b a. momen titik negatip positip b a b. momen batang - negatip + positip 16 Fixed end momen (momen primer) Beban terbagi rata q A B ℓ MAB = +qℓ2/12 MBA = -qℓ2/12 ℓ A a B b 17 2 2 2 2 3 3 4 4 0,5 ( b a ) ( b a ) 0 , 25 ( b a ) 3 q 1 3 3 4 4 M AB 2 (b a ) - 0,25 (b a ) 3 q M AB 2 18 Beban terpusat p a A b B ℓ MAB = +Pab2/ℓ2 MBA = +Pa2b/ℓ2 M B A a MAB = -Mb/ℓ (2a/ℓ - b/ℓ) b MBA = -Ma/ℓ (2b/ℓ - a/ℓ) 19 catatan Setelah didapat hasil akhir dari distribusi momen dan reaksi-reaksi perletakan, jangan lupa bahwa momen - momen yang diperoleh tersebut adalah ditinjau terhadap titik jadi dalam menggambar bidang momen harus dikembalikan keadaan-nya terhadap ujung batang tempat dimana momen - momen tersebut bekerja. 20 Contoh Balok statis tidak tertentu A – B – C, dibebani seperti tergambar. q = 3 t/m dan P = 24 t. Balok non prismatis dengan kekakuan 3 EI dan 2 EI 24 t 3t/m’ 10 3EI A 20 10 2EI B 20 C 21 kAB= 4 . 3 EI / ℓ = 12 EI / ℓ kR = 12 kBC= 4 . 2 EI / ℓ = 8 EI / ℓ kR = 8 kAB : kBC = 12 : 8 22 Faktor distribusi:UntukAB= AB= 12/20 Untuk BC= BC= 8/20 100 A +100 100 60 B -100 +60 B 60 -60 C +40 Ke BA +24 =0,6*40 0,4*40 ke BC +40= momen pengunci 23 Momen primer (fixed end momen) MAB= ql2/12 = 100 MBA= -ql2/12 =-100 MCB= -24.10.102/202 = -60 MBC= 24.10.102/202 = 60 24 B A 0,6 0,6 +100 -100 +24 BC= 0,4 12 -18 AB= 0 -9 2,4 CB= 1 +103 -91,6 3 cycle C 0,4 1 BA= +60 +16 -60 +60 FEM distribusi 1 +30 -12 +8 -8 induksi distribusi 2 -4 +1,6 -6 +6 induksi distribusi 3 +91,6 0 momen akhir 25 Titik C: C engsel, tidak menerima momen, seluruh momen distribusi ke batang BA Titik A: A jepit, momen diserap diperletakkan dan koefisien distribusi di A = 0 26 Free Body: 103 3t/m’ + 103 24 t 91,6 91,6 - + + 18 ql 2 150 14 24 20 120 - + + M Contoh: Balok ABCD dibebani beban seperti tergambar ini. Untuk perhitungan kekakuan dipakai kekakuan k yang dimodifikasi 27 Catatan: Untuk jepit ke engsel setelah memakai k dimodifikasi tidak ada momen-induksi-nya lagi. 20 t 6t 3 t/m’ kR 2 t/m’ 4 18 B D E A C CD = 2I AB = 3I BC = 10I 12 12 3 24 3 5 2 kmod 3/4 . 3 = 2,25 5 mod 2,25/7,25=0,31 0,69 3/4 . 2 = 1,5 0,77 0,23 28 FEM: AB= 1/12.3.122= 36 BA= -36 BC= 1/12.2.242 + 20.12.122/242= 156 CB= -156 CD= 18.4.82/122= 32 DC= -18.8.42/122= -16 29 batang A B C D AB BA BC CB CD DC - 0,31 0,69 0,77 0,23 - FEM Distr 36 -36 -36 -37,2 156 -82,8 -156 95,4 32 28,6 -16 -2 18 Ind Distr -18 -9,2 47,7 -20,5 -41,4 32,6 -1 9,8 Ind Distr -5 16,3 -11,3 -10,2 7,9 2,3 Ind Distr -1,2 3,9 2,7 5,6 4,3 1,3 106,6 106,6 -73 73 -18 18 Total 0 DE 30 Free body 106,6 3 t /m 20t 2 t /m 73 18 18 6 Diagram momen + - M + 31
© Copyright 2026 Paperzz