Penjualan Angsuran (Barang Tidak Bergerak/Bukan Barang Dagang) I. Pendahuluan Metode penjualan angsuran pada mulanya berasal dari penjualan rumah pada perusahaan real estate, tetapi pada masa sekarang penjualan dengan metode ini telah berkembang pada perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan kendaraan seperti mobil, motor; mesin; alat-alat rumah tangga dan lainnya. Bahkan pada beberapa jenis industri metode penjualan angsuran ini telah menjadi kunci utama dalam mencapai operasi skala besar. Metode penjualan angsuran ini cukup berkembang pesat dan disukai di kalangan usahawan dan juga di kalangan pembeli. Bagi usahawan metode ini telah meningkatkan jumlah penjualan yang tentunya meningkatkan laba, bagi pembeli mereka merasa lebih ringan dalam hal pembayaran untuk melunasi barang yang dicicil tersebut. Meskipun dengan metode ini resiko atas tidak tertagihnya piutang akan meningkat, tetapi kelemahan metode ini dapat diatasi dengan meningkatnya volume penjualan perusahaan. Bagi akuntan, penjualan angsuran menimbulkan beberapa masalah. Masalah utama adalah : “membandingkan antara beban dan pendapatan” (matching of costs and revenues), yaitu : a. Apakah laba kotor dari penjualan angsuran dianggap telah direalisasi pada saat terjadinya penjualan ataukah harus diakui selama masa kontrak angsuran tersebut? b. Apa yang harus dilakukan terhadap beban sehubungan dengan penjualan angsuran yang terjadi pada periode setelah penjualan tersebut? c. Bagaimana menangani persoalan piutang usaha angsuran yang tidak dapat tertagih, pertukaran, dan pemilikkan kembali barang angsuran? II. Pengertian Penjualan Angsuran Penjualan angsuran adalah penjualan barang atau jasa yang dilaksanakan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap atau berangsur. Biasanya pada saat barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, penjual menerima uang muka (down payment) sebagai pembayaran pertama dan sisanya diangsur dengan beberapa kali angsuran. Karena penjualan harus menunggu beberapa periode untuk menagih seluruh piutang penjulannya, maka biasanya pihak penjual akan membebankan bunga atas saldo yang belum diterimanya. Page 1 of 32 Resiko atas tidak tertagihnya piutang usaha angsuran ini sangat tinggi, mungkin saat akan dilakukan penjualan angsuran telah dilakukan survai atas pembeli dan memperoleh hasil yang baik. Karena penagihan piutang usaha angsuran memakan waktu yang cukup lama (beberapa periode), hal tersebut kemungkinan dapat merubah hasil survai yang telah dilakukan semula terhadap pembeli. Untuk menghindari hal-hal demikian, penjual biasanya akan membuat kontrak jual beli (security agreement), yang memberikan hak kepada penjual untuk menarik kembali barang yang telah di jual dari pembeli. Untuk mengurangi barang angsuran tersebut dari resiko terbakar atau hilang, pihak penjual dapat menetapkan syarat bagi pembeli agar barang angsuran tersebut diasuransikan untuk kepentingkan pihak penjual. Premi asuransi ditanggung oleh pembeli, jika barang angsuran hilang atau terbakar, pihak asuransi akan membayar ganti rugi kepada penjual dan bukan pembeli. Kadang kala mungkin jiwa dari pembeli diwajibkan oleh penjual untuk diasuransikan dengan premi auransi atas tanggungan si pembeli. Jadi untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajibankewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat beberapa bentuk perjanjian atau kontrak penjualan angsuran, sebagai berikut : 1. Perjanjian penjualan bersyarat (conditional sales contract), di mana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada di tangan penjual sampai seluruh pembayarannya sudah lunas. 2. Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayaran pertama telah dilakukan, hak milik dapat diserahkan kapada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotikan untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kapada si penjual. 3. Hak milik atas barang-barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan “trust” (trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli, baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akta kepercayaan (trust deed / trust indenture). 4. Beli sewa (lease-purchase) dimana barang-barang yang telah diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpidah kepada pembeli. Penjualan angsuran dengan bentuk-bentuk perjanjian tersebut di atas dilaksanakan untuk barangbarang tidak bergerak / barang yang bukan barang dagang, seperti : gedung, tanah, dan aktiva-aktiva tetap lainnya. Apabila terjadi tidak dipenuhinya kewajiban-kewajiban oleh pembeli, maka penjual Page 2 of 32 tetap memiliki hak untuk memiliki kembali barang yang dijualnya, tetapi nilainya sisa barang itu mungkin akan lebih rendah dari nilai barang berdasarkan perhitungan yang sesuai dengan perjanjian yang ada sehingga pemilikan kembali tersebut dapat menimbulkan kerugian. Untuk mengurangi kemungkinan kerugian yang terjadi pemilikan kembali, maka faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut : 1. Besarnya pembayaran pertama atau down payment harus cukup untuk menutup besarnya semua kemungkinan terjadinya penurunan harga barang tersebut dari semula barang baru menjadi barang bekas. 2. Jangka waktu pembayaran di antara angsuran yang satu dengan yang lain hendaknya tidak terlalu lama, kalau dapat tidak lebih dari satu bulan. 3. Besarnya pembayaran angsuran periodik harus diperhitungkan cukup untuk menutup kemungkinan penurunan nilai barang-barang yang ada selama jangka pembayaran yang satu dengan pembayaran angsuran berikutnya. III. Metode Pengakuan Laba Kotor Pada Penjualan Angsuran Untuk menghitung laba bersih pada penjualan angsuran adalah sangat kompleks, karena beban sehubungan dengan penjualan angsuran tersebut tidak hanya terjadi pada saat penjualan angsuran tersebut dilakukan, melainkan akan terjadi sepanjang penjualan angsuran tersebut belum dilunasi. Sesuai dengan konsep akuntasni yaitu membandingkan antara beban dengan pendapatan (matching costs against revenue), maka pada saat penjualan angsuran dapat ditentukan nilai dari penjualan, harga pokok dan beban yang terjadi pada periode tersebut. Karena penagihan penjualan angsuran meliputi beberapa periode, timbul masalah bagaimana beban yang terjadi pada periode berikutnya (misalkan beban penagihan, administrasi, perbaikan dan pemilikan kembali) sehubungan penagihan piutang usaha angsuran tersebut. Untuk menghitung laba kotor dalam penjualan angsuran pada prakteknya dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu : 1. Pengakuan Laba Kotor pada saat terjadinya penjualan angsuran. 2. Pengakuan Laba Kotor sejalan dengan realisasi penerimaan kas. 1. Pengakuan Laba Kotor pada saat terjadinya penjualan angsuran Dalam metode ini seluruh laba kotor diakui pada saat terjadinya penjualan angsuran, atau dengan kata lain sama seperti penjualan pada umumnya yang ditandai oleh timbulnya piutang/tagihan kepada pelanggan. Apabila prosedur demikian diikuti maka sebagai konsekuensinya pengakuan Page 3 of 32 terhadap biaya-biaya yang berhubungan dam dapat diidentifikasikan dengan pendapatan-pendapatan yang bersangkutan harus pula dilakukan. Beban untuk pendapatan dalam periode yang bersangkutan harus meliputi biaya-biaya yang diperkirakan akan terjadi dalam hubungannya dengan pengumpulan piutang atas kontrak penjualan angsuran, kemungkinan tidak dapatnya piutang itu direalisasikan maupun kemungkinan rugi sebagai akibat pembatalan kontrak. Terhadap biaya yang ditaksir itu biasanya dibentuk suatu rekening Cadangan Kerugian Piutang. Jika barang tidak bergerak dijual secara angsuran, perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan aktiva yang bersangkutan serta mengkredit pula laba atas penjualan aktiva tersebut. Jurnalnya adalah: Piutang usaha angsuran xxxxxx Aktiva tak gerak xxxxxx Laba atas penjualan aktiva tak gerak xxxxxx Pada metode ini memakai asumsi bahwa seluruh beban sehubungan dengan penjualan angsuran terjadi pada periode yang sama dengan penjualannya. Mengenai beban pada periode berikutnya, yaitu misalnya beban tidak tertagihnya piutang dan lain sebagainya, harus diestimasi pada periode terjadinya penjualan nagsuran yaitu dengan mendebit perkiraan beban dan mengkredit perkiraan penilaian asset seperti penyisihan biaya penjualan angsuran dan penyisihan piutang angsuran. Jurnalnya adalah: Beban usaha xxxxxx Penyisihan piutang angsuran xxxxxx Jika pada periode berikutnya penjualan nagsuran tersebut terjadi, perkiraan penyisihan tersebut akan didebit, dan kas yang dikeluarkan serta saldo piutang usaha yang tidak tertagih akan dikredit. Jurnalnya adalah: Penyisihan piutang angsuran xxxxxx Kas xxxxxx Piutang usaha angsuran xxxxxx 2. Laba kotor diakui sejalan dengan realisasi penerimaan kas Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan Page 4 of 32 angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan. Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi penerimaan angsuran pada perjanjian penjualan angsuran adalah: a. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian harga pokok (Cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (Cost) kembali, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan. Prosedur ini dianggap sangat konservatif. Dapat didukung jika timbul keraguan mengenai nilai yang dapat diperoleh kembali, baik yang berkaitan dengan saldo atau sisa kontrak cicilan maupun yang berkaitan dengan barang-barang yang terkena pemilikan kembali. b. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan; sesudah seluruh keuntungan yang ada terpenuhi, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan kembali atau pengembalian harga pokok (Cost). c. Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok (Cost) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani. Di dalam hal ini keuntungan akan selalu sejalan dengan tingkat pembayaran angsuran selama jangka perjanjian. Metode ini memberikan kemungkinan untuk mengakui, keuntungan prosporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran. Di dalam akuntansi prosedur demikian dikenal dengan metode angsuran atau dasar angsuran (installment method or installment basis). Pada metode ini jika harta tak gerak (bukan barang dagang) dijual secara angsuran, perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit harta yang bersangkutan serta mengkredit laba kotor yang ditangguhkan (yang belum direalisasi). Jurnalnya adalah: Piutang usaha angsuran Page 5 of 32 xxxxxx Aktiva Tetap xxxxxx Laba kotor yang ditangguhkan (yang belum direalisasi) xxxxxx Mengenai penagihan piutang usaha angsuran tersebut akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha Jurnalnya adalah: Kas xxxxxx Piutang usaha angsuran xxxxxx Selanjutnya pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatat sbb: Jurnalnya adalah: Laba kotor yang belum direalisasi xxxxxx Laba kotor yang direalisasi xxxxxx Laba kotor yang belum direalisasi adalah selisih antara penjualan angsuran dengan harga pokoknya. Laba kotor yang berlum direalisasi akan direalisasi pada saat penerimaan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan presentase laba kotor dengan kas yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut. Untuk menghitung presentase laba kotor yaitu dengan membagi laba kotor yang belum dieralisasi dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan 100%. Laba kotor ditangguhkan = Penjualan – HPP (Harga Pokok Penjualan) % Laba kotor = (Laba kotor yang belum direalisasi : Penjualan angsuran) x 100% Contoh soal: 1. PT Orascle telah membeli sebuah tanah di daerah Jakarta dengan harga perolehan Rp. 170.000.000,00. di samping itu PT Orascle juga membayar biaya-biaya lainnya seharga Rp. 10.000.000,00 Pada tanggal 1 mei 2000, PT Hadouken membeli tanah tersebut seharga Rp. 240.000.000,00. PT Hadouken membayar uang muka sebesar Rp. 40.000.000,00 dan sisanya akan dibayar angsuran sebanyak 10 kali setengah tahunan, setiap kali angsuran Rp. 20.000.000,00. PT Orascle mengenakan bunga 18% pertahun terhadap sisa angsuran. Komisi dan beban penjualan dibayar tunai sebesar 2% dari harga jual. Periode akuntansi perusahaan sama dengan tahun fiskal. Diminta : Catatlah transaksi-transasksi tersebut ke dalam jurnal untuk tahun 2000 dan 2001, dengan menggunakan a. Laba kotor diakui pada saat penjualan b. Laba kotor diakui sejalan dengan realisasi penerimaan kas Page 6 of 32 Jawaban: a. Laba kotor diakui pada saat penjualan 1 mei 2000 Penjualan tanah dengan harga jual Rp. 240.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 240.000.000,00 Tanah Rp. 180.000.000,00 Laba atas penjualan tanah Rp. 60.000.000,00 Penerimaan uang muka Kas Rp. 40.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 40.000.000,00 Dibayar komisi dan beban penjualan (2% x Rp. 240.000.000,00) Beban komisi dan penjualan Rp. 4.800.000,00 Kas Rp. 4.800.000,00 1 november 2000 Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 200.00.000,00) Kas Rp. 38.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 18.000.000,00 31 desember 2000 Jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp. 180.000.000) Piutang Bunga Rp. 5.400.000,00 Pendapatan bunga Rp. 5.400.000,00 Realisasi Laba kotor Tidak ada jurnal Ayat jurnal penutup Page 7 of 32 Laba atas penjualan tanah Rp. 60.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 23.400.000,00 Beban komisi dan penjualan Rp. 4.800.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 78.600.000,00 1 januari 2001 Ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 5.400.000,00 Piutang bunga Rp. 5.400.000,00 1 mei 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 180.000.000,00) Kas Rp. 36.200.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 16.200.000,00 1 november 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 160.000.000,00) Kas Rp. 34.400.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 14.400.000,00 31 desember 2001 Ayat jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x 140.000.000,00) Piutang bunga Rp. 4.200.000,00 Pendapatan bunga Rp. 4.200.000,00 Realisasi laba kotor Tidak ada jurnal Ayat jurnal penutup Pendapatan bunga Ikhtisar rugi laba Page 8 of 32 Rp. 29.400.000,00 Rp. 29.400.000,00 b. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas 1 mei 2000 Penjualan tanah seharga Rp. 240.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 240.000.000,00 Tanah Rp. 180.000.000,00 Laba kotor yang belum direalisasi Rp. 60.000.000,00 Penerimaan uang muka Kas Rp. 40.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 40.000.000,00 Dibayar komisi dan beban penjualan (2% x Rp. 240.000.000,00) Beban komisi dan penjualan Rp. 4.800.000,00 Kas Rp. 4.800.000,00 1 november 2000 Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 200.000.000,00) Kas Rp. 38.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 18.000.000,00 31 desember 2000 Jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp.180.000.000,00) Piutang bunga Rp. 5.400.000,00 Pendapatan bunga Rp. 5.400.000,00 Realisasi Laba kotor Laba kotor yang belum direalisasi Rp. 15.000.000,00 Realisasi laba kotor Rp. 15.000.000,00 Ayat jurnal penutup Page 9 of 32 Realisasi laba kotor Rp. 15.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 23.400.000,00 Beban komisi dan penjualan Rp. 4.800.000,00 Ikhtisar rugi/laba Rp. 33.600.000,00 1 januari 2001 Ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 5.400.000,00 Piutang bunga Rp. 5.400.000,00 1 mei 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 180.000.000,00) Kas Rp. 36.200.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 16.200.000,00 1 november 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 160.000.000,00) Kas Rp. 34.400.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 14.400.000,00 31 desember 2001 Ayat jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp. 140.000.000,00) Piutang bunga Rp. 4.200.000,00 Pendapatan bunga Rp. 4.200.000,00 Realisasi laba kotor (10% x Rp.40.000.000,00) Laba kotor yang belum direalisasi Rp. 10.000.000,00 Realisasi laba kotor Rp. 10.000.000,00 Ayat jurnal penutup Realisasi laba kotor Rp. 10.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 29.400.000,00 Iktisar rugi/laba Page 10 of 32 Rp. 39.400.000,00 Pada penjualan angsuran dengan metode pengakuan laba kotor pada saat penjualan terjadi, akan diakui laba kotor sebesar Rp. 60.000.000,00 pada tahun 2000, yaitu pada saat penjualan terjadi (jurnal tanggal 1 mei 2000). Sedangkan pada metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas juga akan mengakui laba kotor sebesar Rp. 60.000.000,00 pula. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut: Tahun Penerimaan angsuran Presentase laba kotor 2000 Rp. 60.000.000,00 25% Rp. 15.000.000,00 2001 Rp. 40.000.000,00 25% Rp. 10.000.000,00 2002 Rp. 40.000.000,00 25% Rp. 10.000.000,00 2003 Rp. 40.000.000,00 25% Rp. 10.000.000,00 2004 Rp. 40.000.000,00 25% Rp. 10.000.000,00 2005 Rp. 20.000.000,00 25% Rp. 5.000.000,00 Rp. 240.000.000,00 Pengakuan laba kotor Rp. 60.000.000,00 Apabila kewajiban tidak dapat dipenuhi oleh pihak pembeli, maka pihak penjual akan menarik kembali harta yang telah dijual. Pencatatan atas penarikan kembali harta tersebut tergantung dari metode pengakuan laba kotor yang digunakan. Jika laba kotor laba kotor diakui pada saat penjualan terjadi, maka harta yang dimiliki tersebut diakui sebesar harga pasar yang wajar, kemudian membatalkan saldo piutang usaha nagsuran dan menimbulkan laba atau rugi karena pemilikan kembali. Jika menggunakan metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas, maka harta yang dimiliki tersebut diakui sebesar harga pasar yang wajar, kemudian membatalkan laba kotor yang belum direalisasi serta saldo piutang usaha angsuran dan menimbulkan laba atau rugi karena pemilikan kembali. Contoh kasus ketidakmampuan pelunasan piutang usaha angsuran adalah: 2. Mengacu pada soal no 1 bila pada tanggal 1 mei 2002, PT. Hadouken tidak dapat membayar (memenuhi) kewajibannya. PT Orascle kemudian menarik hartanya kembali dan pada tanggal tersebut tanah itu dinilai menurut harga pasarnya yaitu sebesar Rp. 150.000.000,00. PT. Hadouken menerima 5% dari jumlah yang telah dibayarnya tetapi tidak termasuk bunga. Diminta: Buatlah perhitungan rugi/laba dan jurnal pemilikan kembali untuk a. Laba kotor diakui pada saat penjualan b. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas Page 11 of 32 Jawaban: a. Laba kotor diakui pada saat penjualan Jumlah piutang yang diterima Rp. 100.000.000,00 Jumlah yang dikembalikan kepada PT Hadouken (10%) Rp. 5.000.000,00 Rp. 95.000.000,00 Harga pokok tanah Rp. 180.000.000,00 Nilai pasar Rp. 150.000.000,00 Penurunan nilai tanah Rp. 30.000.000,00 Total laba pemilikan kembali Rp. 65.000.000,00 Laba kotor yang telah diakui Rp. 60.000.000,00 Laba (rugi) pemilikan kembali Rp. 5.000.000,00 Jurnal pemilikan kembali Tanah Rp. 150.000.000,00 Kas Rp. 5.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 140.000.000,00 Laba atas pemilikan kembali Rp. 5.000.000,00 b. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas Jumlah piutang yang diterima Rp. 100.000.000,00 Jumlah yang dikembalikan (5%) Rp. 5.000.000,00 Rp. 95.000.000,00 Harga pokok tanah Rp. 180.000.000,00 Nilai pasar Rp. 150.000.000,00 Penurunan nilai tanah Rp. 30.000.000,00 Total laba pemilikan kembali Rp. 65.000.000,00 Laba kotor yang telah diakui Rp. 25.000.000,00 Laba (Rugi) karena pemilikan kembali Rp. 40.000.000,00 Page 12 of 32 Jurnal pemilikan kembali Tanah Rp. 150.000.000,00 Laba kotor yang belum direalisasi Rp. 35.000.000,00 Kas Rp. 5.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 140.000.000,00 Laba atas pemilikan kembali Rp. 40.000.000,00 Untuk kedua metode di atas masih diperlukan sebuah jurnal lagi, yaitu jurnal untuk menutup piutang bunga, pada akhir tahun 2001 sebesar Rp. 4.200.000,00 sebagai kerugian. Ayat jurnal pembalik 1 januari 2000 Pendapatan bunga Rp. 4.200.000,00 Piutang bunga Rp. 4.200.000,00 Ayat jurnal penutup Laba yang ditahan Rp. 4.200.000,00 Pendapatan bunga IV. Rp. 4.200.000,00 PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PENJUALAN ANGSURAN A. Neraca Penyusunan neraca pada perusahan yang melakukan penjualan nagsuran sama dengan penjualan biasa, hanya terdapat hal yang harus dieprhatikan adalah: 1. Piutang usaha angsuran biasanya dikelompokkan sebaagi aktiva lancar dan harus dijelaskan pada penjelasan laporan keuangan atau dengan catatan kaki yang mengungkapkan tanggal jatuh temponya. Hal ini dengan asumsi bahwa definisi dari aktiva lancar adalah sumber-sumber yang diharapkan dapat direalisir menjadi kas atau dijual. Maka jangka waktu piutang usaha angsuran tersebut diabaikan. 2. Laba kotor yang belum direalisasikan dapat dikelompokkan: Kelompok kewajiban atau pendapatan yang belum direalisasi. Pengurang piutang usaha angsuran. Kelompok modal yang menjadi bagian dari laba yang ditahan Cara yang paling umum adalah laba kotor yang belum direalisasi dicatat sebagai kelompok kewajiban. Page 13 of 32 B. Laporan Rugi/Laba dan Daftar analisa realisasi laba kotor Di dalam penyusunan perhitungan rugi/laba untuk penjualan angsuran, harus dipisahkan antara penjualan biasa dengan angsuran. Laba kotor penjualan angsuran periode tersebut dikurangi dengan saldo laba kotor yang belum direalisasi pada akhir periode, yang menghasilkan laba kotor periode tersebut yang telah direalisasi. V. PENGAKUAN LABA PENJUALAN ANGSURAN DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN Undang-undang Perpajakan No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Menurut salah satu metode penjualan angsuran bahwa laba kotor diakui sejalan dengan tagihan uang kas yang diterima, sehingga laba kotor akan diakui untuk beberapa periode fiskal. Sedangkan menurut pajak penghasilan sesuai dengan undang-undang no.7 bahwa laba hasrus diakui pada saat penjualan dilakukan. Sehingga terdapat perbedaan persepsi antara laba menurut metode penjualan angsuran dengan undang-undang pajak penghasilan. Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia pasal 9 tentang pajak penghasilan, yaitu: Dalam Perhitungan rugi/laba, jumlah pajak penghasilan dapat dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena pajak, dengan tarif sebagaimana ditetapkan oleh fiskus. Dalam hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhitungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan “perbedaan waktu” pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak akan ditampung ke dalam pos “pajak penghasilan yang ditangguhkan” dan dialokasikan pada beban pajak pengahsilan tahun-tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian jika perusahaan menghitung laba menurut metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas hasil penjualan angsuran, maka selisih antara pajak penghasilan perusahaan dengan pajak pengahsilan menurut fiskus ditampung dalam perkiraan pajak penghasilan yang ditangguhkan (belum direlisasi). Contoh soal: 1. Bila PT Hadouken mendapatkan laba untuk tahun 1999 sebesar Rp. 10.250.000,00. Sedangkan menurut undang-undang pajak penghasilannya adalah Rp. 9.500.000,00. Buatlah jurnal untuk menyesuaikannya! Page 14 of 32 Pajak pengahsilan menurut perusahaan Rp. 10.250.000,00 Pajak pengahsilan menurut UU pajak penghasilan Rp. 9.500.000,00 Selisih Rp. 750.000,00 Jurnal untuk mencatat pembebanan pajak tersebut Ikhtisar rugi/laba Rp. 10.250.000,00 Hutang pajak (PPh pasal 29) Rp. 9.500.000,00 Pajak penghasilan yang ditangguhkan Rp. 750.000,00 Jika perusahaan menggunakan metode pengakuan laba kotor pada saat penjualan angsuran, maka tidak terdapat perbedaan antara laba menurut perusahaan dengan laba menurut pajak. Undang-undang perpajakan No.8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah Untuk perusahaan dagang umumnya dan perusahaan dagang angsuran harus ditetapkan apakah perusahaan tersebut adalah pengusaha kena pajak (PKP) atau non PKP. Bila perusahaan tersebut adalah PKP, maka untuk seluruh penjualan barang dagangnya harus dikenakan PPN. Dan bila merupakan non PKP maka tidak boleh dipungut PPN. PPN yang dikenakan atas nilai jual ini disebut sebagai PPN keluaran. Sedangkan PPN atas barang yang dibeli merupakan PPN masukkan. PPN masukkan dapat dikreditkan dengan PPN keluaran. Selain itu perusahaan juga membayar pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), bila barang yang dibeli merupakan kategori barang mewah. Tarif ini berkisar anatar 10% - 30%. PPnBM ini dikenakan hanya sekali pada pengusaha dan tidak daoat dikreditkan dengan PPN keluarannya sehingga harus dimasukkan sebagai harga pokok barang yang dibelinya. VI. BUNGA PADA PENJUALAN ANGSURAN Dalam penjualan angsuran pihak penjual biasanya juga memperhitungkan bunga atas saldo angsuran yang belum dibayar disamping memperhitungkan laba. Bunga dalam penjualan angsuran harus dipisahkan dari pengakuan laba kotor dari hasil usaha bagi pihak penjual, sedangkan untuk pihak pembeli unsur bunga harus dipisahkan dari harga perolehan dari barang angsuran yang dimilikinya. Dalam menghitung bunga, dapat dilakukan denagn beberapa cara, yaitu: Bunga dihitung dari saldo pokok pinjaman yang belum dilunasi selama jangka waktu angsuran (bunga dihitung dari saldo menurun), disebut Long End Interest. Bunga dihitung dari akumulasi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo (tidak termasuk uang muka) yang dihitung sejak pembayaran angsuran pertama sampai dengan paling akhir, disebut Short End Interest. Bunga dihitung secara anuitet. Setiap periode sama besarnya dan di dalam setiap pembayaran angsuran mengandung unsure pelunasan angsuran dan bunga. Page 15 of 32 Bunga selama masa pembayran angsuran diitung dari harga kontrak awal setelah diperhitungkan dnegan uang muka. Contoh Soal: PT Hadouken menjual peralatannya secara angsuran. Pada tanggal 1 februari 1998, dijual peralatan secara angsuran dengan harga jual sebesar Rp. 10.000.000,00. Pembeli membayar uang muka sebesar Rp. 1.000.000,00 dan sisanya dibayar secara angsuran sebanyak 10 kali bulanan dengan bunga sebesar 12% pertahun. Harga pokok perlatan adalah Rp. 8.000.000,00. Buat perhitungan bunga dan jurnal yang diperlukan untuk 3 bulan pertama ! Jawaban: 1. Bunga dihitung dari saldo pokok pinjaman yang belum dilunasi selama jangka waktu angsuran. Pada cara ini bunga yang dibebankan pada setiap kali angsuran dihitung dari saldo pokok pinjaman awal periode tersebut. Bunga yang dibayar setiap periode akan makin lama makin kecil, sesuai dengan makin kecilnya saldo pinjaman penjualan angsuran tersebut. Perhitungan bunga dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tanggal Saldo pokok Angsuran Pinjaman Page 16 of 32 Bunga 1% Jumlah yang per bulan harus dibayar 1’2’1998 10.000.000 1’2’1998 9.000.000 1.000.000 -- 1’3’1998 8.100.000 900.000 90.000 990.000 1’4’1998 7.200.000 900.000 81.000 981.000 1’5’1998 6.300.000 900.000 72.000 972.000 1’6’1998 5.400.000 900.000 63.000 963.000 1’7’1998 4.500.000 900.000 54.000 954.000 1’8’1998 3.600.000 900.000 45.000 945.000 1’9’1998 2.700.000 900.000 36.000 936.000 1’10’1998 1.800.000 900.000 27.000 927.000 1’11’1998 900.000 900.000 18.000 918.000 909.000 -- -- 1’12’1998 -- 900.000 9.000 Jumlah -- 10.000.000 495.000 -1.000.000 -- Jurnal transaksi: Tanggal 1’2’1998 Buku penjual Buku pembeli Kas 1.000.000 Peralatan Piutang usaha angsuran 9.000.000 Kas 1.000.000 Hutang angsuran 9.000.000 Penjualan angsuran 1’3’1998 10.000.000 Kas 990.000 Piutang usaha angsuran 1’4’1998 Kas Beban bunga 90.000 Kas 981.000 Piutang usaha angsuran 900.000 90.000 990.000 Hutang angsuran 900.000 Beban bunga 81.000 Kas Pendapatan bunga 2. Hutang angsuran 900.000 Pendapatan bunga 10.000.000 900.000 81.000 981.000 Bunga dihitung dari akumualsi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo (tidak termasuk uang muka) Cara ini menghitung bunga dari akumulasi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo. Dengan demikian bunga yang dibebankan makin lama makin besar, seiirng dengan makin membesarnya akumulasi pembayaran angsuran tiap periode. Pembayaran bunga dengan metode ini tidak sesuai dengan system bunga accrual. Pada sitem tersebut, bunga dihitung dari saldo pinjaman yang belum dilunasi dan bukan dari akumualsi angsuran yang jatuh tempo. Oleh karena itu jika perusahaan membuat laporan keuangan tiap akhir periode, maka harus dilakukan penyesuaian atas bunga menurut system accrual. Perhitungan bunga dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tanggal Saldo pokok Angsuran Pinjaman Page 17 of 32 Bunga 1% Jumlah yang per bulan harus dibayar 1’2’1998 10.000.000 1’2’1998 9.000.000 1.000.000 1’3’1998 8.100.000 900.000 9.000 909.000 1’4’1998 7.200.000 900.000 18.000 918.000 1’5’1998 6.300.000 900.000 27.000 927.000 1’6’1998 5.400.000 900.000 36.000 936.000 1’7’1998 4.500.000 900.000 45.000 945.000 1’8’1998 3.600.000 900.000 54.000 954.000 -- --- -1.000.000 1’9’1998 2.700.000 900.000 63.000 963.000 1’10’1998 1.800.000 900.000 72.000 972.000 1’11’1998 900.000 900.000 81.000 981.000 1’12’1998 -- 900.000 90.000 990.000 Jumlah -- 10.000.000 495.000 -- Jurnal transaksi: Tanggal 1’2’1998 Buku Penjual Kas Buku Pembeli 1.000.000 Piutang usaha angsuran 9.000.000 Penjualan angsuran 1’3’1998 Piutang bunga 10.000.000 9.000 9.000 909.000 Piutang bunga 9.000 Piutang usaha angsuran 1’4’1998 Piutang bunga 18.000 Pendapatan bunga Kas 1.000.000 Hutang angsuran 9.000.000 918.000 9000.00 9.000 Hutang angsuran 900.000 Hutang bunga 9.000 Kas 909.000 18.000 Hutang bunga Hutang angsuran 18.000 Hutang bunga Piutang usaha angsuran 9.000 Hutang bunga Beban bunga 18.000 Piutang bunga 3. 900.000 10.000.000 Kas Beban bunga Pendapatan bunga Kas Peralatan 18.000 900.000 18.000 Kas 918.000 Bunga dihitung secara anuitet Pada cara ini pembayaran setiap periodenya sama besarnya, dan setiap pembayran tersebut meliputi pembayran pokok pinjaman dan pembayran bunga. Pembayaran dengan cara ini disebut sebagai pembayaran anuitet. Untuk mencari jumlah pembayran anuitet setiap periode digunakan rumus: T T = Ann 1- 1/(1 + i )n = Jumlah angsuran yang belum lunas Ann = Pembayaran angsuran setiap periode i n = Jumlah periode angsuran; i = Bunga per periode Dalam contoh diatas maka pembayaran anuitet dapat dicari sebagai berikut : Rp. 9.000.000 = Ann 1- 1/(1+1%)10 1% Page 18 of 32 Rp. 9.000.000 = Ann x 9,4713045 Ann = 950.238, 692 4. Bunga selama masa pembayaran angsuran dihitung dari harga kontrak awal setelah diperhitungkan dengan uang muka. Pada cara ini bunga untuk setiap periode dihitung dari saldo awal pokok pinjaman setelah dikurangi dengan uang muka. Sehingga dengan demikian buinga yang dibebankan untuk setiap periode sama besarnya dan jumlah angsuran ditambah bunga periode terebut akan menghasilkan jumlah yang sama besar pula. Contoh terkait diatas: Bunga untuk setiap periode = 1% x Rp. 9.000.000,00 = Rp. 90.000,00 Angsuran untuk setiap periode = Rp. 900.000 + Rp. 90.000,00 = Rp. 990.000,00 Tabel perhitungan bunga Tanggal Bunga dihitung Pembayaran dari saldo pokok pokok pinjaman Total pembayaran pinjaman Page 19 of 32 Saldo pokok pinjaman 1’2’1998 -- -- -- 10.000.000 1’2’1998 -- 1.000.000 1.000.000 9.000.000 1’3’1998 90.000 900.000 990.000 8.010.000 1’4’1998 90.000 900.000 990.000 7.020.000 1’5’1998 90.000 900.000 990.000 6.030.000 1’6’1998 90.000 900.000 990.000 5.040.000 1’7’1998 90.000 900.000 990.000 4.050.000 1’8’1998 90.000 900.000 990.000 3.060.000 1’9’1998 90.000 900.000 990.000 2.070.000 1’10’1998 90.000 900.000 990.000 1.080.000 1’11’1998 90.000 900.000 990.000 990.000 1’12’1998 90.000 900.000 990.000 -- Jumlah 900.000 10.000.000 10.900.000 Dari keempat cara di atas, bila dipandang dari sudut perusahaan yang melakukan penjualan angsuran, maka cara yang terakhir yang menghasilkan bunga lebih besar dari cara yang lainnya. Biasanya dalam dunia usaha penjualan angsuran digunakan cara pertama. ketiga dan keempat. VII. Hubungan Penjualan Angsuran Dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Dalam hubungannya dengan SAK, penjualaan angsuran dapat dikatakan berhubngan dengan: a. PSAK NO. 16 tentang Aktiva Tetap Dan Aktiva Lain-Lain Hal ini dikarenakan, kebanyakan penjualan angsuran adalah aktiva tetap sebuah perusahaan, seperti : gedung, tanah, peralatan. Dalam penjualan aktiva tetap ini akan muncul piutang dan bunga. b. PSAK NO. 44 tentang Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estat Hal ini dikarenakan, penjualan angsuran pada mulanya adalah penjualan real estat, ditambah lagi penjualan real estat sampai sekarang masih merupakan cicilan, jarang sekali yang membayar langsung karena begitu besar biaya yang harus dikeluarkan sehingga lebih baik di cicil. c. PSAK NO. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan Hal ini dikarenakan, dalam perhitungan pajak penghasilan dari sebuah perusahaan, kadang kala terdapat selisih pajak dan juga pengaturan atas selisih pajak ini harus disesuaikan sehingga tidak menimbulkan suatu kerancuan. d. PSAK NO. 47 tentang Akuntansi Tanah Hal ini dikarenakan, dalam prakteknya tanah adalah suatu aktiva yang banyak diperjual belikan dengan angsuran, karena mahalnya harga tanah terlebih lagi di kota besar. e. PSAK NO. 48 tentang Penurunan Nilai Aktiva Hal ini dikarenakan, dlam penjualan angsuran bila si pembeli tidak mampu membayar maka akan terdapat pemilikan kembali akan aktiva tersebut dan biasanya harganya cendenrung menurun dari harga sewaktu menjual aktiva tersebut secara angsuran. Page 20 of 32 VIII. Variasi Soal 1. PT Surken yang bergerak dalam bidang ekspor impor akan menjual aktiva tetap miliknya, yaitu 3 bidang tanah di Irian, Maluku dan di Sulawesi. a. Tanah di Irian berharga pokok Rp. 190.000.000,00 dan akan dibeli oleh PT Hadouken seharga Rp. 250.000.000,00. Disamping itu PT Surken membayar komisi dan beban penjualan sebesar 1 % dari harga jual. Rencananya penjualan akan menggunakan metode cicilan yang mangakui laba kotor pada saat penjualan, PT Hadouken akan mencicil pembayaran sebanyak 5 kali setengah tahunan dan PT Surken mengenakan bunga sebesar 12 % atas cicilan tersebut serta PT Hadouken telah membayar Rp. 50.000.000,00. Sebelumnya PT Surken juga telah membayar Rp. 10.000.000,00 untuk biaya pengurusan tanah yang di Irian tersebut. PT Hadouken membeli tanah tersebut tanggal 1 April 1999. b. Tanah di Maluku akan dibeli oleh PT Surkep, tanah di Maluku ini rencananya akan dicatat dengan metode laba kotor sejalan dengan penerimaan kas. Harga beli tanah di sana adalah Rp. 145.000.000,00 dan biaya untuk penggantian biaya surat tanah sebesar Rp. 5.000.000,00. PT Surkep membeli tanah tersebut pada tanggal 29 februari 1998 seharga Rp. 200.000.000,00 dengan cicilan sebanyak 5 kali setengah tahunan dan sudah memberikan uang muka sebesar Rp. 20.000.000,00. Bunga yang dikenakan sebesar 12 %, dan PT Surken membayar komisi dan beban penjualan sebesar 2 % dari harga jual. c. Tanah di Sulawesi akan dibeli oleh PT Gadifs. Tanah tersebut memiliki harga beli Rp. 300.000.000,00 (dengan surat-surat). PT Gadifs membeli tanah tersebut tanggal 1 maret 1998 seharga Rp. 400.000.000, dengan metode cicilan yang mengakui laba kotor pada saat penjualan. PT Gadifs juga membayar uang muka sebesar Rp. 100.000.000,00 dan sisanya diangsur 10 kali dan atas angsuran tersebut dikenakan bunga 12%. Untuk beban komisi penjualan PT Surken membayar Rp. 10.000.000,00. Malangnya, PT Gadifs salah dalam berinvenstasi sehingga tanggal 1 maret 2000 tidak mampu memenui kewajibannya. PT Surken terpaksa harus menarik kembali tanahnya, dan pada waktu itu harga tanah tersebut Rp. 250.000.000,00 dan dikembalikan 15% dari jumlah yang telah dibayar. Pertanyaan : Buatlah seluruh jurnal yang mencatat transaksi penjualan tersebut untuk 2 tahun ! Page 21 of 32 Jawaban : a. Laba kotor diakui pada saat penjualan 1 April 1999 Mencatat penjualan tanah Piutang usaha angsuran Rp. 250.000.000,00 Tanah Rp. 200.000.000,00 Laba atas penjualan tanah Rp. 50.000.000,00 Mencatat penerimaan uang muka Kas Rp. 50.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 50.000.000,00 Membayar komisi dan beban penjualan (1% x Rp. 250.000.000,00) Beban penjualan Rp. 2.500.000,00 Kas Rp. 2.500.00,00 1 Oktober 1999 Mencatat pembayaran angsuran pertama dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 200.000.000,00) Kas Rp. 32.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 12.000.000,00 31 Desember 1999 Mencatat jurnal penyesuaian bunga (3/12 x 12% x Rp. 180.000.000,00) Piutang Bunga Rp. 5.400.000,00 Pendapatan Bunga Rp. 5.400.000,00 Ayat Jurnal Penutup Page 22 of 32 Laba atas penjualan tanah Rp. 50.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 17.400.000,00 Beban penjualan Rp. 2.500.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 64.900.00,00 1 Januari 2000 Mencatat ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 5.400.000,00 Piutang bunga Rp. 5.400.000,00 1 April 2000 Mencatat pembayaran angsuran kedua dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 180.000.000,00) Kas Rp. 30.800.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 10.800.000,00 1 Oktober 2000 Mencatat pembayaran angsuran ketiga dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 160.000.000,00) Kas Rp. 29.600.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 9.600.000,00 31 Desember 2000 Ayat jurnal penyesuaian bunga (3/12 x 12% x 140.000.000,00) Piutang bunga Rp. 4.200.000,00 Pendapatan bunga Rp. 4.200.000,00 Ayat jurnal penutup Pendapatan bunga Rp. 19.200.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 19.200.000,00 1 Januari 2001 Ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 4.200.000,00 Piutang bunga Rp. 4.200.000,00 1 April 2001 Mencatat pembayarn angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 140.000.000,00) Kas Page 23 of 32 Rp. 28.400.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 8.400.000,00 b. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas 29 Februari 2000 Mencatat penjualan tanah Piutang usaha angsuran Rp. 200.000.000,00 Tanah Rp. 150.000.000,00 Laba kotor yang ditangguhkan Rp. 50.000.000,00 Mencatat penerimaan uang muka Kas Rp. 20.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Membayar beban dan komisi penjualan (2% x Rp. 200.000.000,00) Beban penjualan Rp. 4.000.000,00 Kas Rp. 4.000.000,00 1 September 2000 Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12%x 180.000.00,00) Kas Rp. 30.800.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 10.800.000,00 31 Desember 2000 Ayat jurnal Penyesuaian (4/12 x 12% x Rp 160.000.000,00) Piutang bunga Rp. 6.400.000,00 Pendapatan bunga Rp. 6.400.000,00 Realisasi Laba kotor % LK = (50.000.000:200.000.000) x 100% = 25% LKBD = 25 % x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 12.500.000,00 Laba kotor yang ditangguhkan Rp.12.500.000,00 Laba kotor yang direalisasikan Rp. 12.500.000,00 Ayat Jurnal Penutup Page 24 of 32 Laba kotor yang direalisasikan Rp. 12.500.000,00 Pendapatan bunga Rp. 17.200.000,00 Beban penjualan Rp. 4.000.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 25.700.000,00 1 Januari 2001 Ayat Jurnal Pembalik Pendapatan bunga Rp. 6.400.000,00 Piutang bunga Rp. 6.400.000,00 29 Februari 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 160.000.00,00) Kas Rp. 29.600.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 9.600.000,00 1 September 2001 Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 140.000.000,00) Kas Rp. 28.400.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 8.400.000,00 31 Desember 2001 Ayat jurnal penyesuaian bunga (4/12 x 12% x Rp. 120.000.000,00) Piutang bunga Rp. 4.800.000,00 Pendapatan bunga Rp. 4.800.000,00 Realisasi Laba kotor (25% x Rp. 50.000.000,00 – Rp.12.500.000,00 ) Laba kotor yang ditangguhkan Rp. 9.375.000,00 Laba kotor yang direalisasi Rp. 9.375.000,00 Ayat jurnal penutup Pendapatan bunga Rp. 16.400.000,00 Laba kotor yang direalisasi Rp. 9.375.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 25.775.000,00 1 Januari 2002 Ayat Jurnal Pembalik Piutang Bunga Pendapatan Bunga Page 25 of 32 Rp. 4.800.000,00 Rp. 4.800.000,00 29 Februari 2002 Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 120.000.000,00) Kas Rp. 27.200.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 7.200.000,00 c. Laba kotor diakui pada saat penjualan 1 Maret 1998 Mencatat penjualan tanah Piutang usaha angsuran Rp. 400.000.000,00 Tanah Rp. 300.000.000,00 Laba atas penjualan tanah Rp. 100.000.000,00 Mencatat penerimaan uang muka Kas Rp. 100.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 100.000.000,00 Mencatat beban dan komisi penjualan Beban penjualan Rp. 10.000.000,00 Kas Rp. 10.000.000,00 1 September 1998 Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 200.000.000,00) Kas Rp. 32.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 12.000.000,00 31 Desember 1998 Ayat jurnal penyesuaian (4/12 x 12%x Rp. 180.000.000,00) Piutang bunga Rp. 7.200.000,00 Pendapatan bunga Rp. 7.200.000,00 Ayat jurnal penutup Page 26 of 32 Laba atas penjualan tanah Rp. 100.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 19.200.000,00 Beban penjualan Rp. 10.000.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 118.200.000,00 1 Januari 1999 Ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 7.200.000,00 Piutang bunga Rp. 7.200.000,00 1 Maret 1999 Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 180.000.000,00) Kas Rp. 30.800.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 10.800.000,00 1 September 1999 Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12%x Rp. 160.000.000,00) Kas Rp.29.600.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 20.000.000,00 Pendapatan bunga Rp. 9.600.000,00 31 Desember 1999 Ayat jurnal penyesuaian bunga (4/12 x 12%x Rp. 140.000.000,00) Piutang bunga Rp. 5.600.000 Pendapatan bunga Rp. 5.600.000,00 Ayat jurnal penutup Pendapatan bunga Rp. 18.800.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp. 18.800.000,00 1 Januari 2000 Ayat jurnal pembalik Pendapatan bunga Rp. 5.600.000,00 Piutang bunga Rp. 5.600.000,00 Kemudian PT Gadifs tidak dapat memenuhi kewajibannya, sehingga Jumlah piutang yang telah diterima Rp. 160.000.000,00 Jumlah yang dikemnbalikan (15%) Rp. 24.000.000,00 Page 27 of 32 Rp. 136.000.000,00 Harga pokok tanah Rp 300.000.000,00 Nilai pasar Rp.250.000.000,00 Penurunan nilai tanah Rp. 50.000.000,00 Total laba pemilikan kembali Rp. 86.000.000,00 Laba kotor yang telah diakui Rp. 100.000.000,00 Rugi karena pemilikan kembali Rp (14.000.000,00) Jurnal pemilikan kembali tanah: Tanah Rp. 250.000.000,00 Rugi atas pemilikan kembali Rp. 14.000.000,00 Kas Rp. 24.000.000,00 Piutang usaha angsuran Rp. 240.000.000,00 Contoh soal dan penyelesaian : Penjualan angsuran barang tak bergerak dengan metode laba kotor diakui secara periodik (pada saat penjualan dilakukan) 1 Sept 1990 Dijual mesin (aktiva tetap) kepada PT B dengan harga Rp. 500 juta yang nilai bukunya Rp. 400 juta Piutang-PT B Mesin Keuntungan penjualan aktiva tetap 500 juta 400 juta 100 juta Diterima uang muka (d/p) Rp. 100 juta dan sisanya dengan wesel hipotik yang dapat diangsur selama 4 kali angsuran semesteran @ Rp. 100 juta ditambah bunga 12% per tahun atas saldo yang belum dibayar. Angsuran dilakukan tiap 1/3 dan 1/9. Kas Wesel Hipotik Piutang-PT B 100 juta 400 juta 500 juta Dibayar biaya penjualan sebesar Rp. 2 juta Biaya penjualan Kas 31 Desember 1990 Page 28 of 32 2 juta 2 juta Jurnal penyesuaian untuk bunga yang masih harus diterima selama 4 bulan yaitu sebesar 16 juta (4/12 * 12% * 400 juta) Piutang Bunga Pendapatan bunga 16 juta 16 juta Jurnal penutup: Keuntungan atas penjualan aktiva tetap Pendapatan bunga Biaya penjualan Ikt. R/L 100 juta 16 juta 2 juta 114 juta 1 Januari 1991 Jurnal Pembalik: Pendapatan bunga Piutang bunga 16 juta 16 juta 1 Maret 1991 Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga Kas Wesel hipotik Pendapatan bunga 124 juta 100 juta 24 juta 1 September 1991 Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga Kas Wesel hipotik Pendapatan bunga 118 juta 100 juta 18 juta 31 Desember 1991 Jurnal penyesuaian untuk bunga yang masih harus diterima selama 4 bulan yaitu sebesar 8 juta (4/12 * 12% * 200 juta) Piutang Bunga Pendapatan bunga 8 juta 8 juta Jurnal penutup: Pendapatan bunga Ikt. R/L Page 29 of 32 34 juta 34 juta 1 Januari 1992 Jurnal Pembalik: Pendapatan bunga Piutang bunga 8 juta 8 juta 1 Maret 1992 Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga Kas Wesel hipotik Pendapatan bunga 112 juta 100 juta 12 juta 1 September 1992 Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga Kas Wesel hipotik Pendapatan bunga 106 juta 100 juta 6 juta 31 Desember 1992 Jurnal penutup: Pendapatan bunga Ikt. R/L 10 juta 10 juta Masalah yang berhubungan dengan pembatalan penjualan angsuran Seandainya pada soal tersebut diatas, PT B (si pembeli) tidak mampu membayar angsuran pada tanggal 1 Maret 1992 dan pihak penjual (PT A) setuju untuk membatalkan penjualan angsuran dengan menyerahkan wesel hipotik dengan saldo Rp. 200 juta dan memiliki kembali mesin tersebut. Mesin tersebut menunjukkan nilai pasar wajar sebesar Rp. 190 juta. Mesin Kerugian atas pemilikan kembali Wesel hipotik 190 juta 10 juta 200 juta Jurnal untuk mencatat bunga yang tak tertagih adalah: Kerugian atas bunga wesel hipotik yang tak tertagih Pendapatan bunga Page 30 of 32 8 juta 8 juta Masalah Bunga dalam Penjualan Angsuran : a. Bunga dihitung dari sisa kontrak selama jangka waktu angsuran. Cara ini disebut: “Long end interest” Contoh: Sebuah mesin dengan nilai buku sebesar Rp. 400.000.000,- dijual seharga Rp. 500.000.000,pada tanggal 1 September 1990. Pada tanggal 1 September 1999 diterima uang muka sebesar Rp. 35.900.000,- sisanya diangsur dengan 4 kali angsuran semesteran, ditambah bunga 20% pertahun yang dihitung dari saldo piutang (sisa harga kontrak berjalan) atau menggunakan metode “Long end interest”. Maka perhitungan besarnya bunga, angsuran pokok dan jumlah pembayaran adalah sbb: Tgl 1/9/90 1/9/90 1/3/91 1/9/91 1/3/92 1/9/92 Bunga 46,410,000 34,807,500 23,205,000 11,602,500 Angsuran Pokok Jumlah Pembayaran 35,900,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 35,900,000 162,435,000 150,832,500 139,230,000 127,627,500 Sisa harga kontrak 500,000,000 464,100,000 348,075,000 232,050,000 116,025,000 - b. Bunga dihitung dari setiap angsuran yang dibayar, yang dihitung sejak tanggal perjanjian sampai tanggal jatuh tempo tiap angsuran. Cara ini disebut Short End Interest. Contoh: Sebuah mesin dengan nilai buku sebesar Rp. 400.000.000,- dijual seharga Rp. 500.000.000,pada tanggal 1 September 1990. Pada tanggal 1 September 1999 diterima uang muka sebesar Rp. 35.900.000,- sisanya diangsur dengan 4 kali angsuran semesteran, ditambah bunga 20% pertahun yang dihitung dari saldo angsuran pokok selama berjalannya jangka waktu angsuran atau menggunakan metode “Short end interest”. Maka perhitungan besarnya bunga, angsuran pokok dan jumlah pembayaran adalah sbb: Tgl 1/9/90 1/9/90 1/3/91 1/9/91 1/3/92 1/9/92 Bunga 11,602,500 23,205,000 34,807,500 46,410,000 Angsuran Pokok Jumlah Pembayaran 35,900,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 35,900,000 127,627,500 139,230,000 150,832,500 162,435,000 Sisa harga kontrak 500,000,000 464,100,000 348,075,000 232,050,000 116,025,000 - c. Besarnya pembayaran angsuran sama, yang terdiri dari angsuran pokok + bunga yang dihitung dari saldo berjalan harga kontrak selama jangka waktu angsuran. Cara ini disebut Metode Anuitas. Contoh: Sebuah mesin dengan nilai buku sebesar Rp. 400.000.000,- dijual seharga Rp. 500.000.000,pada tanggal 1 September 1990. Pada tanggal 1 September 1999 diterima uang muka sebesar Rp. 35.900.000,- sisanya diangsur dengan 4 kali angsuran semesteran yang sama, dan sudah termasuk bunga 20% pertahun yang dihitung dari saldo berjalan sis harga kontrak atau menggunakan metode anuitas”. Maka perhitungan besarnya bunga, angsuran pokok dan jumlah pembayaran adalah sbb: Page 31 of 32 Tgl 1/9/90 1/9/90 1/3/91 1/9/91 1/3/92 1/9/92 Bunga 46,410,000 36,410,000 25,410,000 13,310,000 Angsuran Pokok Jumlah Pembayaran 35,900,000 100,000,000 110,000,000 121,000,000 133,100,000 35,900,000 146,410,000 146,410,000 146,410,000 146,410,000 Sisa harga kontrak 500,000,000 464,100,000 364,100,000 254,100,000 133,100,000 0 d. Bunga dihitung secara periodik berdasar saldo awal harga kontrak. Contoh: Sebuah mesin dengan nilai buku sebesar Rp. 400.000.000,- dijual seharga Rp. 500.000.000,pada tanggal 1 September 1990. Pada tanggal 1 September 1999 diterima uang muka sebesar Rp. 35.900.000,- sisanya diangsur dengan 4 kali angsuran semesteran yang sama, belum termasuk bunga 20% pertahun yang dihitung dari saldo awal harga kontrak dengan jangka waktu antar periode pembayaran. Maka perhitungan besarnya bunga, angsuran pokok dan jumlah pembayaran adalah sbb: Tgl 1/9/90 1/9/90 1/3/91 1/9/91 1/3/92 1/9/92 Page 32 of 32 Bunga 46,410,000 46,410,000 46,410,000 46,410,000 Angsuran Pokok Jumlah Pembayaran 35,900,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 116,025,000 35,900,000 162,435,000 162,435,000 162,435,000 162,435,000 Sisa harga kontrak 500,000,000 464,100,000 348,075,000 232,050,000 116,025,000 -
© Copyright 2025 Paperzz